Selasa, 13 November 2012

Proposal Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
  Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan- harapan baru yang dialami remaja membuat remaja mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. (IDAI,2008;Nur,2010) sehingga dalam periode ini terjadi perubahan yang sangat pesat dalam dimensi fisik, mental dan sosial. Umumnya proses pematangan fisik lebih cepat dari pematangan psikososialnya. Karena itu seringkali terjadi ketidak-seimbangan yang menyebabkan remaja sangat sensitif dan rawan terhadap cemas. Kecemasan sebagai salah satu bentuk dampak perubahan psikis yang dialami hampir setiap remaja.
    Biasanya kecemasan muncul sebagai reaksi normal terhadap suatu yang menekan, dan karena itu berlangsung sebentar (Ramaiah,2003). Kecemasan bisa berpengaruh buruk pada seseorang jika frekuensi timbulnya sering kali. Kecemasan dapat timbul dengan sendirinya atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi. Kecemasan suatu keadaan emosional yang ditandai oleh rangsangan fisiologis, perasaan-perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan ketakutan, persangkaan (firasat) serta perasaan ngeri terhadap masa depan (Semiun, 2006).
            Dampak tersebut dapat mencakup fisik maupun psikis, dari segi fisik akan berpengaruh pada penurunan kondisi kesehatan secara umum, meliputi gangguan denyut jantung, peredaran darah, gangguan pernafasan, sistem daya tahan tubuh, sistem metabolisme dan seterusnya. Sedangkan dari segi psikis dapat memunculkan gejala-gejala tingkah laku seperti adanya kecenderungan menarik diri dari kehidupan social, berhalusinasi, berfantasi, menutup diri, bermuram durja, pesimis, merasa tidak bahagia, cemas, depresi, merasa tidak dicintai, stress, kesulitan berkosentrasi, agresif dan bertemperamen panas.
   Gangguan kecemasan pada umumnya adalah suatu kondisi penyebab kegelisahan atau ketegangan yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan secara berlebihan sering kali  tanpa ada factor pemicunya. Kecemasan sendiri lebih sering dialami wanita daripada pria (Ramaiah,2006). Perempuan lebih mengkhawatirkan keluarganya, kebutuhan pribadinya, kesehatan dirinya dan berbagai isu (misalnya dalam dunia kerja dan mode) (Brown,2006). Silverman (ed Brown,2006) juga mengatakan bahwa perempuan dilaporkan lebih mencemaskan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah, teman-teman sekelas dan penampilan. Myers mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akan ketidak-mampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitive (Myers,1983;Trismiati,2004). Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan (Myers,1983;Trismiati, 2004).
   Individu yang mengalami ancaman kecemasan senantiasa hidup dengan rasa takut terkena malapetaka serta kuatir dalam sebagian besar aspek kehidupannya baik meliputi kesehatan, uang, pekerjaan, kelurga dan sebagainya. Mungkin juga akan terjadi kepanikan akut berulang kali dengan gejala yang lebih parah. Gejala-gejala gangguan kecemasan secara umum antara lain  senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was yang sifatnya tidak menentu (diffuse unessinnes), terlalu peka (mudah tersinggung) dalam pergaulan, sering merasa tidak mampu, minder, depresi serba sedih, sulit kosentrasi dan mengambil keputusan, serba takut salah, rasa tegang menjadikan yang bersangkutan bersikap tegang-lamban yakni bereaksi secara berlebihan  terhadap rangsangan yang datang secara tiba-tiba atau yang tidak diharapkan dan selalu melakukan gerakan neurotic tertentu, seperti mematahkan kuku jari, mendeham dan sebagainya, adanya keluhan otot tegang khususnya bagian leher dan sekitar bagian atas bahu, mengalami diare ringan yang kronik, sering buang air kecil, dan gangguan tidur berupa imsonia atau mimpi buruk, mengeluarkan keringat dan telapak tangan sering basah , sering berdebar-debar dan tekananan darahnya tinggi, sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar tanpa sebab yang jelas, sering mengalami anxiety attacks atau tiba-tiba cemas tanpa sebab yang jelas (Supratiknya,2006).
   Menstruasi merupakan salah satu permasalahan yang penting pada remaja putri. Hal tersebut menunjukan bahwa siklus masa subur pada wanita sudah dimulai. Menarcheadalah saat pertama kali remaja mengalami menstruasi dan salah satu perubahan yang penting untuk menjadikan kematangan remaja memasuki masa puber (Stainberg,2002). Kedatangan menarche sering kali dianggap remaja sebagai suatu penyakit, sehinggamenarche pada remaja putri dapat menimbulkan kecemasan (Dariyo,2004;Hardiningsih,2009), ini disebabkan oleh kesiapan mental, kurang memiliki pengetahuan dan sikap yang cukup baik tentang perubahan-perubahan fisik dan psikologis terkait menarche, dan kurangnya pengetahuan tentang perawatan diri yang diperlukan saat menstruasi (Ferry,2007;Hardiningsih,2009). Selain itu juga mengalami depresi dan mudah tersinggung sebelum dan selama proses menstruasi (Hillary,1988). Riset lain juga menemukan bahwa wanita mengalami kecemasan yang tinggi, bermusuhan atau depresi saat pada periode menstruasi daripada hari-hari lainnya (e.g. Golub,1976 ; Paige,1971 ; Hilary,2002). Kecemasan merupakan gejala yang sering terjadi dan sangat mencolok pada peristiwa menarche yang kemudian diperkuat oleh keinginan untuk menolak proses fisiologis tersebut (Kartono,2006). Karena dalam siklus menstruasi sendiri banyak ditemui gangguan-gangguan yang sifatnya traumatis, salah satunya rasa sakit akibat menstruasi yang sangat menyiksa karena nyerinya luar biasa menyakitkan (Dismenorea). Sifat rasa nyeri adalah kejang berjangkit-jangkit biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya. Selama dismenorea, terjadi kontraksi otot rahim akibat peningkatan prostaglandin sehingga menyebabkan vasospasme dari arteriol uterin yang menyebabkan terjadinya iskemia dan kram pada abdomen bagian bawah yang akan merangsang rasa nyeri disaat menstruasi (Robert dan David,2004; Nur,2010).
   Pada remaja putri menarche (menstruasi pertama) rata-rata usia 8-14 tahun, sehingga tahun-tahun pertama pola siklus haid tidak teratur. Hal itu dikarenakan belum teraturnya siklus hormon seksual sebab estrogen pada permulaan menstruasi sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanda sex sekunder. (Chandranita;2009).
Menurut Dariyo (dalam Hardiningsih;2009) terdapat dua jenis reaksi remaja putri terhadap datangnya menarche yaitu :  reaksi negatif yaitu suatu pandangan yang kurang baik dari seorang remaja putri ketika dirinya memandang terhadap munculnya menstruasi dan reaksi positif yaitu remaja putri yang mampu memahami, menghargai dan menerima adanya menarche sebagai tanda kedewasaan seorang wanita.
   Reaksi cemas sebenarnya merupakan hal yang wajar bagi seseorang karena kecemasan itu sendiri bisa membangun dan merugikan. Jika kecemasan tersebut dapat mendorong seseorang kearah positif maka dapat dikatakan berguna sedangkan jika kecemasan tersebut menyebabkan penderitaan maka akan menimbulkan kerugian. Untuk menghilangkan kecemasan bagi kebanyakan orang yaitu berusaha meninggalkan sumber dari kecemasan tersebut. Kelihatannya memang solusi yang sangat mudah akan tetapi dalam kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Penggunaan obat-obatan memang dapat membantu tapi hanya sementara dan sifatnya tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi seseorang (O’connor,2005)
   Penelitian mengenai kecemasan juga pernah dilakukan menggunakan terapi sistematis Desensitiasi (SD) modifikasi perilaku yang menggunakan metode pengkondisian  dalam mengatasi kecemasan seseorang, yakni mendapatkan rasa relaksasi untuk mendominasi atas perasaan takut dan kecemasan untuk sistuasi tertentu yang mengancam dalam kehidupan seseorang (Egbochuku,2005). Penelitian serupa mengenai pengaruh pelatihan meditasi juga pernah dilakukan di lakukan dan terbukti secara efektif mampu menurunkan tingkat kecemasan (Afandi,2007). Penelitian lain tentang meditasi dalam bentuk baru yaitu meningkatkan kesadaran seseorang (Maindfulness Base Cognitive Therapy) mampu menurunkan depresi tingkat tinggi (Teasdall,2000). Riset  menggunakan meditasi mantra Islam ternyata efektif dalam menurunkan tingkat agresivitas (Wahsun,2005). Herbert Benson juga melaporkan bahwa penggunaan Meditasi ini mampu membuat pasiennya yang semula mempunyai tingkat kecemasan tinggi atau pasien yang tingkat depresi rendah hingga menengah menjadi lebih rendah lagi tingkat kcemasan, depresi, kemarahan dan sikap bermusuhannya (O’connor,2005).
     Sebuah penelitian yang dikutip dari Health Magazine tahun 1995 wanita-wanita dengan syndrome pramentruasi kronis mengalami penurunan hingga 58% dari gejala yang mereka rasakan setelah menjalani terapi meditasi (Sindhu,2009). Manifestasi klinis sindrom pramenstruasi dapat berupa penuhnya payudara dan terasa nyeri, bengkak, kelelahan, sakit kepala, peningkatan nafsu makan, iritabilitas dan ketidakstabilan perasaan dan depresi, kesulitan dalam kosentrasi, keluar air mata dan kecenderungan untuk melakukan kejahatan (Behrman, Kliegman and Arvin;2000).
Disini jelaslah unsur meditasi dalam bentuk apapun baik pendekatan mistik, semiTranscedental Meditation ataupun sufi hingga bentuk meditasi yang dikembangkan oleh ilmuwan sekarang yaitu pengembangan kesadaran diri kesemuanya sangat berperan dalam mengatasi kecemasan  seseorang, Meditasi sendiri diyakini mampu berperan dalam mencapai kesehatan yang lebih baik. Meditasi merupakan jembatan yang menghubungkan konsep pemahaman kemampuan spiritual dengan ilmu kedokteran. Kedua konsep tersebut tidaklah bertentangan. Pengetahuan spiritual berpandangan bahwa kekuatan manusia yang tertinggi yang mengatur mind dan body dalam otak. Sedangkan ilmu psikiatri modern mengajarkan kemampuan manusia yang tertinggi terletak pada otak yang mengatur fisik dan mental. Iskandar (2008) meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang.
            Secara medis dapat dikatakan bahwa meditasi yang dilakukan secara teratur akan merangsang tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri. Dalam studinya Richard Davidson dan Jon Kabat-Zinn mengatakan bahwa terapi meditasi dapat mempengaruhi kekebalan tubuh (Haynes dan Zabel,2004). Dengan meditasi dimungkinkan terjadinyahemeostatik atau keseimbangan dalam otak.  Hipotalamus sebagai sentral otak akan bereaksi untuk meningkatkan fungsi kerja hormon. Dalam kondisi dan keadaan yang demikian antibodi tubuh akan bekerja secara optimal.
  Adanya interaksi kompleks antara hipotalamus, kelenjar pituitary, ovarium danendometrium juga tampak pada siklus haid (Hacker,2001; Suwarni,2009). Pada kondisi gangguan menstruasi pada remaja meditasi dapat dijadikan salah satu terapi mengatasi permasalahan-permasalahan yang muncul saat mengalami menstruasi, karena rileksasi ini mampu memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan haid yang bebas dari nyeri (Arifin,2010;Nur,2010).
            Pada dasarnya meditasi bisa dilakukan oleh siapa saja. Praktek meditasi adalah proses mengubah diri untuk mempelajari cara kerja batin dan bagaimana pikiran serta emosi membentuk persepsi. Saat ini, meditasi diajarkan dan dipraktekkan di rumah sakit untuk meringankan stres dan mengatasi rasa sakit kronis. Meditasi juga dapat digunakan untuk mengembangkan kualitas tertentu, seperti kasih sayang atau kebijaksanaan, juga mengatasi masalah-masalah spesifik tertentu seperti pola emosional yang destruktif, sakit yang kronis, dan masalah hubungan antar relasi. Inti dari meditasi ialah untuk tidak melarikan diri dari masalah namun melihat bahwa segala sesuatu yang kita alami dapat diubah menjadi sumber suka cinta melalui latihan meditasi. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan University of Wisconsin di Madison menunjukkan bahwa meditasi mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan emosi positif (Haynes dan Zabel,2004)
Atas dasar hal tersebut peneliti mencoba mencari salah satu solusi yang bisa digunakan dalam mengatasi gangguan kecemasan remaja menghadapi menstruasi, yakni terapi meditasi. Terapi ini menekankan sugesti diri sekaligus mewujudkan kedalam bentuk realitas kehidupan seseorang, baik itu dari segi fisik maupun psikis. Disamping itu alasan lain penggunaan terapi ini dalam hal kemudahan pelaksanaannya serta memiliki banyak manfaat, salah satunya meredam kecemasan seseorang. Benson dan Klipper (2000) menyatakan bahwa terapi ini mampu menghilangkan kelelahan dan membantu seseorang dalam menghadapi kecemasan, meredakan stress yang dapat menimbulkan tekanan darah tinggi, pengerasan pembuluh darah, serangan jantung dan stroke, mengurangi kecenderungan merokok, minum, melayang bersama obat-obatan, dapat digunakan untuk membantu seseorang tidur nyenyak, membuat seseorang lebih waspada sehingga mampu memusatkan perhatiannya pada hal-hal penting, mampu menegaskan kembali manfaat meditasi dan doa dalam kehidupan sehari-hari, dapat dihadiri tanpa membutuhkan kelas ataupun kuliah, dapat digunakan dimanapun, bahkan selama dalam perjalanan kerja, tidak memiliki efek samping. 
Pendapat lain juga dikemukakan bahwa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan antara lain yaitu psikoterapi, terapi relaksasi, meditasi dan obat-obatan (Ramaiah,2006). Jelaslah sudah berdasarkan teori keilmuan dan manfaat yang diuraikan diatas maka meditasi dapat digunakan sebagai salah satu strategi membantu seseorang mengatasi  kecemasan seseorang.
Berangkat dari uraian diatas peneliti berkeinginan untuk membuktikan kesesuaian teori dengan kenyataan dilapangan, yakni menerapkan terapi meditasi dalam menurunkan tingkat kecemasan remaja menghadapi masa menstruasi. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut peneliti lebih mencoba menspesifikasikan subyek penelitian terbatas pada populasi yang kecil karena pada rentang usia tersebut tidak semua siswa sudah mengalami menstruasi. Sehingga harapan ke depan peneliti yang lain mampu mengembangkan penelitian ini lebih lanjut dengan mengambil subyek penelitian yang lebih besar dan rentang umur yang lebih panjang
2. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
Adanya anggapan menarche sebagai penyakit seringkali menimbulkan kecemasan pada remaja dan belum adanya usaha untuk menghilangkan kecemasan yang dihadapi para remaja saat menghadapi menarche mendorong pemikiran tentang perlunya intervensi melalui terapi Meditasi. Mengingat bahwa diketemukan klien yang mengalami menarche pada usia 12 tahun sejumlah 20 orang, belum adanya tindakan terapi untuk menghilangkan kecemasan terhadap menstruasi pada remaja pada usia menarche 12 tahun, dan belum pernah dilakukan terapi Meditasi dalam mengatasi kecemasan yang dihadapi remaja yang memasuki usia menarche di umur 12 tahun.
Menarche adalah saat pertama kali remaja mengalami menstruasi dan salah satu perubahan yang penting untuk menjadikan kematangan remaja memasuki masa puber. Kedatangan menarche sering kali dianggap remaja sebagai suatu penyakit, sehinggamenarche pada remaja putri dapat menimbulkan kecemasan, ini disebabkan oleh kesiapan mental, kurang memiliki pengetahuan dan sikap yang cukup baik tentang perubahan-perubahan fisik dan psikologis terkait menarche, dan kurangnya pengetahuan tentang perawatan diri yang diperlukan saat menstruasi. Kecemasan merupakan gejala yang sering terjadi dan sangat mencolok pada peristiwa menarche yang kemudian diperkuat oleh keinginan untuk menolak proses fisiologis tersebut.
     Untuk mengatasi kecemasan remaja menghadapi menstruasi tersebut, dalam penelitian ini diarahkan pada terapi meditasi. Dengan meditasi dimungkinkan terjadinyahemeostatik atau keseimbangan dalam otak.  Hipotalamus sebagai sentral otak akan bereaksi untuk meningkatkan fungsi kerja hormon. Sedangkan adanya interaksi kompleks antara hipotalamus, kelenjar pituitary, ovarium dan endometrium yang tampak pada siklus haid, dapat menjadikann keduanya sebagai satu keterkaitan.
     Pada kondisi gangguan menstruasi remaja, meditasi dapat dijadikan salah satu terapi mengatasi permasalahan-permasalahan yang muncul saat mengalami menstruasi, karena meditasi ini mampu memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan haid yang bebas dari nyeri.
Sehingga pada penelitian berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul yakni apakah ada pengaruh pemberian Teknik Meditasi antara sebelum dan sesudah perlakuan dalam menurunkan tingkat kecemasan remaja menghadapi menstruasi.
Untuk memecahkan masalah tersebut, akan dilakukan penelitian tindakan kelas Bimbingan Konseling sebanyak 2 siklus, yaitu siklus 1 dan siklus 2. Setiap siklus terdiri dari 4 kegiatan yaitu perencanaan, tindakan, pengukuran hasil.


3. Tujuan
Meditasi merupakan suatu teknik latihan dalam meningkatkan kesadaran, dengan membatasi kesadaran pada satu objek stimulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu untuk mengembangkan dunia internal atau dunia batin seseorang, sehinga menambah kekayaan makna hidup baginya. Iskandar (2008) meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang. Beberapa ahli memberikan istilah lain tentang meditasi (dalam Satiadarma,1998) yaitu Visualisasi (Epstein,1988;Fanning,1988), relaksasi (Benson, 1975), mind-body healing (Rossi,1988), dan Mind-body medicine (Goleman&Gurin, 1993).
Pada zaman sekarang meditasi banyak digunakan untuk mengurangi kecemasan, stress, dan depresi. Ketenangan jiwa yang diperoleh ketika bermeditasi dengan baik mampu meredakan dan memungkinkan seseorang berpikir jernih dalam pengambilan suatu keputusan. Meditasi merupakan pengalihan perhatian ketingkat pemikiran yang lebih dalam hingga masuk ke tingkat pemikiran yang paling dalam dan mencapai sumber pemikiran (Mattesion,2006). Meditasi mampu menurunkan tingkat rangsangan seseorang dan membawa suatu keadaan yang lebih tenang, baik secara psikologis maupun fisiologis (Mattesion,2006). Dengan meditasi mampu menurunkan kecemasan, perasaan reaktif dan agresivitas (Hjelee,1974;Prabowo,2007).
Dengan meditasi ini akan terjadi reaksi pada individu yang mampu meningkatkan kesehatannya secara umum dengan mempelancar proses metabolisme tubuh, laju denyut jantung lebih teratur, peredaran darah  lancar, mengatasi berbagai macam penyakit, mendorong racun dan kotoran dari dalam tubuh keluar, menurunkan tingkat agretifitas dan perilaku-perilaku buruk dampak dari stress, menurunkan tingkat egosentris sehingga hubungan intra personal ataupun intra personal menjadi lancar, mengurangi kecemasan, pada anak-anak dapat meningkatkan intelegency meliputi karakter kognitif, matematis, logis serta karakter afektif, relational, kreatif dan emosional, pola pikir menjadi lebih matang, mempermudah dalam mengendalikan diri, meningkat kesejahteraan (Benson,2000;Santoso,2001).
Herbert Benson (dalam Iskandar, 2008) mengadakan riset klinis, dengan menemukan bahwa meditasi mampu menghambat efek negative dari system simpatis- yang menimbulkan sikap agresif pada manusia jika terancam. Penelitian yang lain yang dilakukan menunjukan bahwa kadar melantonin yang lebih tinggi diketemukan pada orang-orang yang rutin melakukan meditasi (Iskandar, 2008). Kadar melantonin ini bermanfaat untuk membuat orang menjadi lebih senang dan bila kekurangan dapat menyebabkan gangguan tidur. Selain hal diatas Benson mengatakan bahwa dengan meditasi ada pengurangan nyata dalam pemakaian oksigen yang merupakan ukuran utama dari kadar metabolism, pengurangan ini lebih besar daripada pengurangan oksigen setelah enam jam tidur. Konsentrasi arterial dari laktat (lactate) suatu zat kimiawi yang kadang-kadang ada korelasi dengan kecemasan, berkurang empat kali lebih cepat dengan bermeditasi daripada dengan istirahat biasa (dalam Mc.Quade,1987). Temuan serupa dalam kajian klinis juga dikemukakan Ranjie Stegh (dalam Iskandar, 2008) meditasi menstimulasi kelenjar pineal sehingga meningkatkan melantonin dari 7 hingga 1000 persen.
Dalam penelitian ini meditasi lebih mengarah pada (1) meditasi pernafasan (Lichstein,1988), meditasi ini menghayati gerak napas seseorang dari detik demi detik, dengan proses bernapaslah secara alamiah dan menermatilah daya-upaya halus untuk mengontrol atau mengendalikan, untuk memperpanjang atau memperpendek, untuk mengubah atau menahan. Meditasi tidak memfokuskan pada napas sebagai objek perhatian tetapi sebatas memperhatikan saja tanpa daya-upaya  (Sudrijanta, 2011) Sedangkan efek dari tubuh memanipulasi karbon dioksida merupakan cara ampuh dalam reaksi biokimia tubuh (Lichstein,1988) (2) meditasi suara (Benson, 2000), objek yang menjadikan pusat perhatian dalam meditasi ini adalah suara (3) meditasi gelembung pikiran, disebut sebagai penyadaran pikiran, karena dilaksanakan dengan memperhatikan pikiran-pikiran yang muncul (Benson, 2000).
Terkait dengan kecemasan yaitu ketidak-mampuan individu dalam mengendalikan emosi dan perasan antara ketakutan dan kekhawatiran (Hyun, 1999), yang kuat serta meluap-luap (Chaplin,2006) yang menyebabkan kegelisahan irasional (Mcloone,2006), dan perasaan tidak nyaman pada individu tersebut (Tell,2010). Selama individu masih dapat mengatasi stressor maka kecemasan itu masih bersifat normal. Anxietas yang normal sumber kecemasannya dapat diusut, masih dalam taraf sehat, dapat ditoleransi dan tidak akan mengganggu kehidupan seseorang. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan kita, yaitu memperingatkan akan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang untuk mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Sensasi kecemasan sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai rasa ketakutan yang diffuse, tidak menyenangkan dan samar-samar, seringkali disertai gejala otonomik (Sani,2012).
Sedangkan gejala tertentu yang ditemukan selama kecemasan cenderung berbeda. Gejala dari kecemasan meliputi gangguan somatik, kognitip, gangguan perilaku dan gangguan presepsi (Sani,2012). Gejala secara umum dari kecemasan sendiri meliputi: kegelisahan, kelelahan berpikir, kesulitan berkosentrasi, mudah tersinggung, tegang, mual, atau gangguan tidur. Gangguan kecemasan juga sering melibatkan gejala somatic (Mcloone,2006) antara lain keluar keringat dingin, sulit bernafas, ganguan lambung, berdebar-debar, tekanan darah meninggi dan (Baihaqi,2007), gemetar, sesak nafas, nyeri di dada, merasa pusing, pingsan, ketegangan otot (Yates, 2009), buang air besar (Lichstein,1988), getaran anggota tubuh dan aktivitas berlebihan dari system otonomik Ramaiah (2006).
Dan  Gejala jelas yang tampak saat menstruasi remaja cenderung lebih emosional, mudah tersinggung, gelisah, sukar tidur, sakit kepala, perut kembung, dan bahkan saat mengalami gangguan yang berat remaja dapat  mengalami rasa depresi, rasa takut (cemas) dan gangguan dalam berkosentrasi (Candranita,2009). Hingga umur 15 tahun para remaja masih merasakan kecemasan yang menyebabkan kelabilan dan kekacuan pribadi mereka, karena hal-hal terkecilpun mereka mudah tertawa, kemudian marah, lalu putus asa kemudian kembali kondisi sebelumnya.
Kelabilan ini terjadi beberapa hari sebelum tibanya masa menstruasi dalam bentuk cemas, sensitive dan hal-hal semacamnya (Samadi,1959). Mayoritas remaja beberapa hari sebelum tibanya masa menstruasi, merasakan luapan dan rangsangan serta memiliki perasaan yang tidak menentu, khususnya saat menstruasi yang pertama kali atau 1-2 tahun pertama munculnya siklus mentruasi (menarche) (Samadi,1959).
Merujuk dari beberapa teori yang membicarakan tentang kecemasan secara umum dan secara khusus pada remaja yang menghadapi menstruasi maka dalam penelitian ini disusun indicator kecemasan yang meliputi, kegelisahan, kelelahan berpikir, kesulitan berkosentrasi, mudah tersinggung, tegang, gangguan tidur, dan gejala somatik saat menghadapi menstruasi.
Sedangkan uraian tujuan penelitian dalam penelitian ini secara umum yakni mengetahui pengaruh terapi Meditasi terhadap kecemasan remaja saat menghadapi menstruasi sedangkan secara khususnya dapat diketahuinya tingkat kecemasan remaja saat menghadapi menstruasi sebelum dilakukan terapi meditasi (kelompok eksperimen dan kelompok control), dan mengetahui perbedaan kecemasan remaja saat menghadapi menstruasi antara yang mendapatkan terapi meditasi dan tidak mendapatkan terapi meditasi.
 4. Manfaat Penelitian
Pelaksanaan terapi meditasi diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan remaja dalam menghadapi menstruasi di MTsN Rungkut Surabaya, maka terapi meditasi dapat dijadikan sebagai panduan bagi konselor sekolah dalam mengatasi siswa yang mengalami kecemasan ketika menghadapi menstruasi, meningkatkan layanan kualitas konselor sekolah dalam mengatasi gangguan psikis siswa, sedangkan bagi pihak sekolah MTsN Rungkut dapat meningkatkan layanannya dalam siswa yang mengalami gangguan menstruasi
Dalam bidang keilmuan penelitian ini dapat dijadikan acuan dasar pengembangan teori psikologi terkait treatment kecemasan remaja dalam menghadapi menstruasi. Penelitian ini juga dapat evidence based bagi penelitian selanjutnya terkait meditasi dan kecemasan menghadapi menstruasi pada remaja.
5. Definisi Operasional Variabel
a. Variabel Terikat
Merujuk dari beberapa teori yang membicarakan tentang kecemasan secara umum dan secara khusus pada remaja yang menghadapi menstruasi maka dalam penelitian ini disusun indikator kecemasan yang meliputi, kegelisahan, kelelahan berpikir, kesulitan berkosentrasi, mudah tersinggung, tegang, gangguan tidur, dan gejala somatik saat menghadapi menstruasi.
b. Variabel Bebas
Terapi Meditasi adalah suatu teknik latihan dalam meningkatkan kesadaran, dengan membatasi kesadaran pada satu objek stimulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu untuk mengembangkan dunia internal atau dunia batin seseorang, sehinga menambah kekayaan makna hidup baginya.
Sedangkan dalam penelitian ini macam-macam meditasi yang akan digunakan secara berpautan antara lain :
a.  Meditasi pernafasan
Pada meditasi pernafasan ini, pusat perhatian diarahkan pada kegiatan pernafasan itu sendiri. Jadi sesorang terus menerus secara sadar memperhatikan keluar masuknya udara lewat hidung.
b. Meditasi gelembung pikiran (Meditation Buble of Mind)
Meditasi ini juga disebut penyadaran pikiran, karena dilaksanakan dengan memperhatikan pikiran-pikiran yang muncul.
c. Meditasi suara
Objek yang dijadikan pusat perhatian dalam meditasi ini adalah suara, baik yang ada dalam diri maupun yang ada disekitarnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Meditasi
Pada awalnya meditasi adalah nama generik yang diberikan untuk belajar agama di daerah Timur. Tujuan utama dalam meditasi (a) perenungan dan kebijaksanaan, (b) perubahan dalam kesadaran (c) relaksasi (Lichstein,1988). Efek meditasi oleh banyak pakar diyakini membawa dampak positif bagi kehidupan manusia (Satiadarma,1998). Dewasa ini meditasi digunakan dalam banyak hal. Ada yang melaksanakan meditasi untuk mendapatkan kedamaian dan kekuatan jiwa. Istilah meditasi telah dikenal luas baik, baik dari pendekatan awam maupun ilmiah. Akan tetapi banyak orang yang belum memahami tentang meditasi itu sendiri Berikut akan dikupas kajian mengenai meditasi
1. Pengertian Meditasi
Kebanyakan orang mempersepsikan meditasi dengan ritual agama tertentu bahkan ada yang mengkaitkan perdukunan atau klenik. Walsh, Orntein, dan Maupin (dalam Subandi dkk, 2002) meditasi adalah suatu teknik latihan dalam meningkatkan kesadaran, dengan membatasi kesadaran pada satu objek stimulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu untuk mengembangkan dunia internal atau dunia batin seseorang, sehinga menambah kekayaan makna hidup baginya. Iskandar (2008) meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang. Beberapa ahli memberikan istilah lain tentang meditasi (dalam Satiadarma,1998) yaitu Visualisasi (Epstein, 1988; Fanning, 1988), relaksasi (Benson, 1975), mind-body healing (Rossi, 1988), dan Mind-body medicine (Goleman&Gurin, 1993).
2.      Jenis-jenis Meditasi
Narayo dan Onstein (Tart,1997; Prabowo,2007) mengklarifikasikan meditasi menjadi tiga jenis (1) Meditasi Konsefatif (2) Meditasi Pembukaan (Opening up meditation), dan (3) Meditasi Ekpresif. Namun Tart hanya memberikan gambaran pada dua jenis meditasi yaitu meditasi konserfatif dan meditasi opening up meditation.
Teknik meditasi konserfatif pada dasarnya memberikan instruksi untuk memperhatikan secara penuh pada hal tertentu, dapat berupa objek eksternal yang terlihat nyata atau sensasi internal seperti tarikan nafas. Sedangkan opening up meditation pada dasarnya mengacu pada keragaman teknik bertujuan membantu seseorang meningkatkan kepekaan dan kesadaran penuh dari apapun yang terjadi padanya, menjadi pengamat yang sadar (Consius Observer) dalam mengamati apa yang terjadi tanpa harus bereaksi padanya.
Wilber (Rowan,1993;Prabowo,2007) untuk memahami proses perkembangan psikospiritual dapat digunakan dua dimensi, dimana keduanya dilakukan dengan cara yang berbeda yakni eros melawan thanos (cinta melawan mati). Berdasarkan kesadaran tersebut Wilber membagi teknik meditasi dalam 4 kuadran yaitu The Way of Form, The Expressive Way, The Negative Way, dan The Falisitative Way.
Ada beberapa macam meditasi paparan diatas dalam penelitian ini lebih mengarah pada (1) meditasi pernafasan (Lichstein,1988), meditasi ini menghayati gerak napas seseorang dari detik demi detik, dengan proses bernapaslah secara alamiah dan menermatilah daya-upaya halus untuk mengontrol atau mengendalikan, untuk memperpanjang atau memperpendek, untuk mengubah atau menahan. Meditasi tidak memfokuskan pada napas sebagai objek perhatian tetapi sebatas memperhatikan saja tanpa daya-upaya  (Sudrijanta,2011) Sedangkan efek dari tubuh memanipulasi karbon dioksida merupakan cara ampuh dalam reaksi biokimia tubuh (Lichstein,1988) (2) meditasi suara (Benson,2000), objek yang menjadikan pusat perhatian dalam meditasi ini adalah suara (3) meditasi gelembung pikiran, disebut sebagai penyadaran pikiran, karena dilaksanakan dengan memperhatikan pikiran-pikiran yang muncul (Benson,2000).
3.  Manfaat Meditasi
Pada zaman sekarang meditasi banyak digunakan untuk mengurangi kecemasan, stress, dan depresi. Ketenangan jiwa yang diperoleh ketika bermeditasi dengan baik mampu meredakan dan memungkinkan seseorang berpikir jernih dalam pengambilan suatu keputusan. Meditasi merupakan pengalihan perhatian ketingkat pemikiran yang lebih dalam hingga masuk ke tingkat pemikiran yang paling dalam dan mencapai sumber pemikiran (Mattesion,2006). Meditasi mampu menurunkan tingkat rangsangan seseorang dan membawa suatu keadaan yang lebih tenang, baik secara psikologis maupun fisiologis (Mattesion,2006). Dengan meditasi mampu menurunkan kecemasan, perasaan reaktif dan agresivitas (Hjelee,1974;Prabowo,2007).
Dengan meditasi ini akan terjadi reaksi pada individu yang mampu meningkatkan kesehatannya secara umum dengan mempelancar proses metabolisme tubuh, laju denyut jantung lebih teratur, peredaran darah  lancar, mengatasi berbagai macam penyakit, mendorong racun dan kotoran dari dalam tubuh keluar, menurunkan tingkat agretifitas dan perilaku-perilaku buruk dampak dari stress, menurunkan tingkat egosentris sehingga hubungan intra personal ataupun intra personal menjadi lancar, mengurangi kecemasan, pada anak-anak dapat meningkatkan intelegency meliputi karakter kognitif, matematis, logis serta karakter afektif, relational, kreatif dan emosional, pola pikir menjadi lebih matang, mempermudah dalam mengendalikan diri, meningkat kesejahteraan (Benson,2000;Santoso,2001).
4. Penggunaan Meditasi dalam Psikoterapi
Deatherage mengatakan meditasi sebagai formula pengobatan diri (sangat efisien untuk penggunaan waktu terapis dan karenanya cukup biaya-efektif) yang membantu pasien tahu proses mental mereka sendiri dan kesibukannya, mengembangkan "diri pengamat," dan mendapatkan kemampuan untuk membentuk atau mengontrol proses mental mereka (Bogart,1991). Berbagai studi menunjukkan efektivitas dari meditasi mindfulnessdimasukkan ke dalam terapi untuk nyeri, berbagai kanker, HIV, penyakit kardiovaskular, suasana hati, perinatal, dan stres, premen-strual sindrom, insomnia, kecemasan, depresi dan pengobatan mengatasi depresi, keinginan bunuh diri, dan batas personality patologi(Sanders,2010).
Kutz, Borysenko, dan Benson menyatakan bahwa meditasi dapat menjadi primer untuk terapi; untuk mengamati dan mengkategorikan peristiwa mental memberikan wawasan tentang bagaimana skema mental yang diciptakan, sehingga menimbulkan rasa yang lebih besar tanggung jawab dan memungkinkan seseorang untuk melangkah keluar dari keterbatasan konseptual dan stereotip reaksi dan perilaku. Meditasi adalah suatu bentuk introspeksi mengejar luar sesi terapi, pasien yang membayar dengan waktu mereka sendiri, bukan waktu terapis. Jadi meditasi meningkatkan kualitas terapi dengan melibatkan pasien lebih mendalam dalam proses eksplorasi diri dan menyediakan materi berlimpah untuk eksplorasi dalam sesi terapi. Selain itu, terapi dan meditasi baik berasumsi bahwa nyeri pemahaman seseorang dan pertahanan terhadap hal itu dapat mengurangi penderitaan dan meningkatkan pertumbuhan psikologis.  Mereka berpendapat bahwa menggabungkan meditasi dan terapi adalah teknis kompatibel dan saling menguatkan (Bogart, 1991).
Dalam jurnal pendidikan psikologi (Prabowo,2007) menyebutkan juga berbagai penelitian terapi meditasi yang digunakan untuk mengembangkan kualitas manusia yang diasosiasikan dengan peningkatan intelegensi (Tjoa,1972), peningkatan kinerja dan recall dalam bidang pendidikan (Abraham,1972), kreativitas (MacCallum,1974), prestasi akademik (Coller,1973), dan belajar (Miskinan,2002), penerimaan diri (Broto,1994) dan mengurangi keluhan fisik (Subandi&Utami,1995).
Selain hal tersebut juga diketemukan orang-orang yang melaksanakan terapi meditasi, locus of controlnya lebih internal dan memiliki aktualisasi diri yang lebih tinggi (Hjelee,1977;Subandi,2002). Senada dengan Hjelee, Van de Berg dan Mulder (dalam Subandi,2002) juga menemukan bahwa subyek yang melaksanakan meditasi menunjukan peningkatan harga diri (self esteem), kekuatan ego (ego strength), kepuasan (satisfaction), aktualisasi diri (self actualization) dan peningkatan gambaran diri (self image).
B. Kecemasan
Videbeck berpendapat bahwa ansietas adalah alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu. Apabila ansietas menjadi kronis dan menyebabkan perilaku maladaptif, maka ansietas bukan lagi sebagai tanda bahaya, tetapi sudah menjadi gangguan yang sering disebut gangguan ansietas (Agustarika, 2009).
Kecemasan adalah ketidak-mampuan individu dalam mengendalikan emosi dan perasan antara ketakutan dan kekhawatiran (Hyun, 1999), yang kuat serta meluap-luap (Chaplin, 2006) yang menyebabkan kegelisahan irasional (Mcloone,2006), dan perasaan tidak nyaman pada individu tersebut (Tell, 2010). Freud juga berpendapat bahwa kecemasan merupakan pengalaman subyektif individu mengenai ketegangan-ketegangan, kesulitan-kesulitan dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau ancaman (Basuki, 1987; Hanum, 2002)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi bebeapa aspek antara lain, terdapat komponen genetik terhadap kecemasan, scan otak dapat melihat perbedaan terutama pada pasien kecemasan yang respons dengan signal berbahaya, sistem pemrosesan informasi dalam seseorang berjalan dengan singkat (hal ini dapat direspons dengan suatu ancaman sebelum yang bersangkutan menyadari ancaman tersebut), akar dari gangguan kecemasan mungkin tidak akan menjadi pemisahan mekanisme yang menyertainya namun terjadi pemisahan mekanisme yang mengendalikan respons kecemasan dan yang menyebabkan situasi diluar kontrol (Sani,2012).
2. Macam-macam kecemasan
Gangguan kecemasan dapat muncul dalam berapa bentuk gangguan kecemasan antara lain, Generalized Anxiety Disoder, Agorafobia, Fobia khusus (Tell,2010), Separation Anxiety (Herbert,2006),  Obsesif-Kompulsif (Eisner dkk,2009). Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang hampir dialami tiap orang dan semua umur (Herbert, 2006) penjelasan mengenai gangguan tersebut diperjelas Sani (2012) yang mengatakan kecemasan dapat muncul dalam berbagai bentuk  antara lain Gangguan panik, GangguanFobia, Gangguan Obsesif-Kompulsif, Gangguan Stres Akut, Gangguan Kecemasan Umum (GAD), Gangguan Kecemasan Akibat Obat, Gangguan Kecemasan yang tidak ditentukan, Gangguan Kecemasan Akibat Kondisi Kesehatan (medis) Umum.
Berbagai macam kondisi medis dapat menyebabkan gejala yang mirip pada gangguan kecemasan antara lain,
a)      Gangguan Neurologis (Neoplasma serebal, Trauma serebal dan sindroma pasca tegar, penyakit serebrovaskular, Pendarahan subarachasid, Migrain, Ensefalitis, Sifilis serebal, Sklerosis multiple, Penyakit Wilson, Penyakit Huntington, Epilepsi).
b)      Kondisi Sistemik (Hipoksia, Penyakit kardiovaskuler, Aritmia jantung, Insifiensi pulmonal, Anemia)
c)      Gangguan Endrokrin (Disfungsi hipofisis, Disfungsi tiroid, Disfungsi paratroid, Disfungsi adrenal, Feokromositoma, Gangguan virilisasi)
d)     Gangguan Peradangan (Lupus eritematosa, Artritis rematoid, Poliarteritis nodosa, Arteritis temporal)
e)      Keadaan Defisiensi (Defisiensi vitamin B12, Pelagra)
f)       Kondisi Lain (Hipoglikemia, Sindroma karsinoid, Keganasan sistemik, Sindroma pra-menstruasi, Penyakit febril dan infeksi kronis, Sindroma pasca ensefalitis, Urema).
g)      Kondisi Toksi (Putus obat dan Alkohol, Ampetamin, Obat simpatometi, Obatvasopressor, Kafein dan putus kafein, Penicilin, Sulfonamide, Kanabis, Air raksa, Arsenik,Fosfor, Organofosfat, Karbon disulfide, Bezene, Introleransi aspirin)
3. Dampak-dampak Kecemasan
Kecemasan banyak ditemui pada pasien yang menjalani pemeriksaan, investigasi atau perawatan dalam bidang kesehatan. Terdapat perbedaan antara gejala mental kecemasan dan berbagai gejala fisik. Gejala-gejala kecemasan dianggap signifikan klinis yaitu terjadi dalam keadaan yang penuh tekanan, merusak fungsi fisik, sosial atau pekerjaan serta tingkat keparahannya berkepanjangan atau abnormal. Seandainya tidak mendapatkan pertolongan secara tepat, maka gangguan anxietas berpotensi menimbulkan biaya ekonomi kesehatan yang tinggi (Sani, 2012).
4. Treatment Mengatasi Kecemasan
Pengkombinasian penggunaan obat-obat anti anxietas dengan pendekatan Kognitif Behavioral Therapy dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan, tentu saja dalam hal ini dibutuhkan terapis yang kompetan. Pendekatan terapi kognitif ini mampu merubah pola pemikiran seseorang terhadap sumber kecemasan yang dihadapinya. Selain itu penggunan terapi rileksasi, dengan mengatur system pernafasan seseorang juga mampu mereduksi kecemasan (US Departement Of Healt And Human Service,2009).
Pendapat lain berkaitan dengan pemikiran rasa cemas dapat dihilangkan dengan cara memperdalam pembahasan sumber kecemasan tersebut, mendekatnya dengan kesadaran atau memberikan pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan rasa cemas seseorang agar pemikiran-pemikiran tersebut menjadi fakta yang terindera dalam dirinya. Dengan pendekatan ini seseorang akan terhindar dari jerat rasa cemas yaitu menghilangkan atau melemahkan secara gradual, sehingga pemahaman rasa cemas dalam benak seseorang akan hilang (Muhammad, 1958)
Sisi lain untuk penggunaan obat-obatan dalam mengatasi kecemasan perlu diwaspadai, dalam penelitian dilaporkan memiliki imbas bagi penggunanya, sedangkan pendekatan psikoterapi yang terdiri dari disentisiasi sistematis, relaksasi otot, terapi pemaparan bertahap dan manajemen pola asuh keluarga diyakini efektif mampu merendam kecemasan lebih aman (Rosenbaum and Covino,2005). Jenis terapi yang efektif tidak hanya terbatas pada jenis gangguan yang dihadapi oleh seseorang melainkan juga harus memiliki bermacam modus terapi individual dan kelompok. Terapi jenis individual terdiri dari :
1)         Psikoterapi jenis sugesti atau suportif (supportive)
Merupakan bentuk psikoterapi yang sangat sederhana dan tidak mengikuti masa silam maupun alam tidak sadar dari penderita. Psikoterapis berusaha untuk ikut mencarikan jalan kluar yang logis sesuai dengan kemampuan pasien dalam mengenal gangguan yang dihadapi, serta mencari mekanisme pertahanan yang lebih baik dalam menghadapi masalah.
2)            Psikoterapi jenis analisa (insight oriented)
Merupakan jenis psikoterapi yang perlu mengupas alam tak sadar dari pasien karena diperlukan perubahan mendasar guna melakukan adaptasi pasien, dalam menghadapi konflik internalnya. Selain itu motivasi maupun intelegensi yang cukup dari pasien sangatlah menentukan sejauh mana terapi ini mencapai keberhasilan
3)      Psikoterapi jenis perilaku (behavour therapy)
Terapi ini mempunyai landasan utama pada teori belajar/learning theory. Perilaku yang aneh pada seseorang sebenarnya merupakan akibat yang tidak dikehendaki oleh orang tersebut tetapi merupakan hasil dari cara belajar menghadapi situasi tertentu yang cenderung keliru. Tingkat keberhasilan cukup tinggi dengan menggunakan terapi.

C. Menstruasi
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh   yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode ini penting dalam hal reproduksi, dalam bab ini juga akan dibahas secara rinci penjelasan mengenai menstruasi
1.      Pengertian Menstruasi
Haid atau menstruasi adalah salah satu proses alami seorang perempuan yaitu proses deskuamasi atau meluruhnya dinding rahim bagian dalam (endometrium) yang keluar melalui vagina (Prawirohardjo,2007; Suwarni 2009). Siklus menstruasi berkisar antara 21 - 40 hari, hanya 10 – 15% wanita yang memiliki siklus 28 hari dan lebih dari 35 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarche dan sesaat sebelum menopause, lamanya mengeluarkan darah pun berbeda-beda, biasanya antara 3-5 hari,7-8 hari dan ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit.
Menarche sendiri adalah waktu pertama kali menstruasi dan sebagai salah satu aspek penting untuk menjadikan wanita memasuki masa puber (Stainberg,2002). Permulaan dan kelanjutan dari siklus menstruasi yang normal tergantung pada kesatuan fungsional dan anatomis dari hipotalamus bersama dengan pusat-pusat yang lebih tinggi termasuk peran kelenjar pineal, pituitary anterior, ovarium, dan uterus (Berman, Kiliegman and Arvin, 2000). 
2. Gangguan atau kelainan siklus Menstruasi
Menurut Wiknjosastro (2002), gangguan menstruasi dan siklusnya khususnya dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam bentuk Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi, Kelainan siklus, Perdarahan di luar haid
D. Penelitian Yang Relevan
Penelitian terkait pengaruh meditasi terhadap tingkat kecemasan seringkali pernah dilakukan oleh peneliti lain, seperti yang dilakukan Afandi (2007) pengaruh meditasimindfulness terhadap penurunan tingkat kecemasan, Benson dan Klipper (2000) terapi meditasi untuk menghilangkan kelelahan dan membantu seseorang dalam menghadapi kecemasan, meredakan stress dan aspek kesehatan seseorang. Benson (O’connor,2005) Penggunaan meditasi menurunkan tingkat kecemasan dan tingkat depresi, dan masih banyak penelitian lainnya
   Pada penelitian ini memang ada kesamaan dalam penelitian-penelitian sebelumnya yakni pengaruh meditasi terhadap kecemasan akan tetapi tetapi yang membedakan dalam penelitian ini akan difokuskan pada variable kecemasan remaja saat menghadapi menstruasi dan subyek penelitian pada remaja yang mengalami menarche pada umur 12 tahun dan rentang waktu umur 12 tahun hingga 15 tahun dengan lokasi penelitian pada lingkup sekolah tingkat menengah pertama di MTsN Rungkut Surabaya.
E. Kerangka Berpikir
Walaupun meditasi sekarang ini mulai kehilangan ciri-ciri keagamaan dan kebudayaan timurnya akan tetapi manfaatnya dalam terapi psikologis sangat besar. Weil mengatakan pengalaman batin yang irasional adalah penyebab penyakit kejiwaan (Mc.Quade& Aikman,1987) Weil juga mengatakan banyak orang yang sudah tidak tertarik menggunakan obat-obatan walaupun dalam mengubah kesadaran seseorang tanpa harus latihan ataupun usaha. Karena dalam meditasi dianggap membuat orang belajar menjadi sadar akan konflik-konflik elemental pada dirinya dan selain itu pengobatan yang dilakukan ini terhitung lebih murah (Mc.Quade&Aikman,1987).
Sebuah studi kasus melaporkan bahwa relaksasi yang dilakukan secara efektif selama 6 minggu dapat menurunkan ketakutan (Yates, 2009). Selain itu dalam penelitian yang lain yang dilakukan  Davis, Eshelman dan Mckay (Satiadarma,1998) mengemukakan meditasi berhasil mencegah tekanan darah tinggi, gangguan jantung, sakit kepala, diabetes artritis, kecemasan, depresi, serta perasaan bermusuhan (hostility). Penelitian juga menyebutkan bahwa relaksasi adalah dasar dari setiap program untuk mengatasi kecemasan, ketakutan atau panic (Bourne,2000;Mirow,2008) gangguan lain yang diakibatkan stress (Meadow,2006).
Dengan berpijakan pada konsep dasar meditasi, yaitu mencoba melawankan efek otonomis pada meditasi dengan kriteria gangguan kecemasan diharapkan ada counter counditing dan penghilangan. Sebagaimana diketahui bahwa kecemasan adalah ketidak-mampuan individu dalam mengendalikan emosi dan perasan antara ketakutan dan kekhawatiran yang kuat serta meluap-luap dan kegelisahan yang irasional. Freud (2002) juga berpendapat bahwa kecemasan merupakan pengalaman subyektif individu mengenai ketegangan-ketegangan, kesulitan-kesulitan dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau ancaman.
Gejala umum dari kecemasan yaitu kegelisahan, kelelahan berpikir, kesulitan berkosentrasi, mudah tersinggung, tegang,mual, atau gangguan tidur. Gangguan kecemasan juga sering melibatkan gejala somatic antara lain keluar keringat dingin, sulit bernafas, ganguan lambung, berdebar-debar, tekanan darah meninggi dan gemetar, sesak nafas, nyeri di dada, merasa pusing, pingsan, ketegangan otot, buang air besar, getaran anggota tubuh dan aktivitas berlebihan dari system otonomik (Ramaiah,2006). Sehingga dapat diklasifikasikan gangguan kecemasan memunculkan gejala meliputi Gangguan Somatic (tremor, pana-dingin, kejang, berkeringat, palpitasi, nausea/nek, diare, mulut kering, libido yang menurun, sesak nafas dan kesukaran menelan), Gangguan Kognitif (kesukaran kosentrasi, kebingungan, kekuatan akan lepas kendali atau akan menjadi gila, kewaspadaan yang berlebihan serta pikiran akan malapetaka yang besar), Gangguan Perilaku (Ekspresi ketakutan, iritabilitas, imobilitas, hipertensi, dan penarikan diri dari masyarakat), Gangguan Persepsi (depersonalisasi dan derealisasi) (Sani,2012)
Sementara itu beberapa factor yang mempengaruhi kecemasan dan kekuatiran pada masa remaja diantaranya adalah bangkitnya kecenderungan-kecenderungan dan pikiran-pikiran terhadap lawan jenis, guncangan yang hebat, perasaan kebingungan terhadap kewanitaan (Samadi,1959) dan factor biologis yang juga sangat bermain peran dalam masa remaja (Stainberg,2002). Dan masalah-masalah menstruasi merupakan factor biologis yang sangat penting dalam masa pertumbuhan remaja dan perkembangan sex sekundernya (Chandranita, 2009).
Gejala jelas yang tampak saat menstruasi remaja cenderung lebih emosional, mudah tersinggung, gelisah, sukar tidur, sakit kepala, perut kembung, dan bahkan saat mengalami gangguan yang berat remaja dapat  mengalami rasa depresi, rasa takut (cemas) dan gangguan dalam berkosentrasi (Candranita,2009). Hingga umur 15 tahun para remaja masih merasakan kecemasan yang menyebabkan kelabilan dan kekacuan pribadi mereka, karena hal-hal terkecilpun mereka mudah tertawa, kemudian marah, lalu putus asa kemudian kembali kondisi sebelumnya. Kelabilan ini terjadi beberapa hari sebelum tibanya masa menstruasi dalam bentuk cemas, sensitif dan hal-hal semacamnya (Samadi,1959). Mayoritas remaja beberapa hari sebelum tibanya masa menstruasi, merasakan luapan dan rangsangan serta memiliki perasaan yang tidak menentu, khususnya saat menstruasi yang pertama kali atau 1-2 tahun pertama munculnya siklus mentruasi (menarche) (Samadi,1959).
Pada gejala-gejala yang muncul pada siklus menstruasi remaja baik fisik maupun psikis dapat diatasi dengan kondisi tubuh yang rileks atau istirahat (Samadi,1958). Kondisi rileks sendiri memberikan pengaruh yang besar pada masing-masing organ tubuh seseorang (O’connor,2009) seperti yang di ungkapkan oleh Benson (2000) relaksasi dan keyakinan diri mampu menghilangkan sakit kepala, memperlacar tekanan darah, mengatasi kesusahan tidur, mengurangi sakit punggung, mengendalikan panik, mengurangi gejala kecemasan termasuk mual, muntah, diare, sembelit, cepat marah dan ketidak mampuan bergaul dengan orang lain, mengurangi stres secara keseluruhan dan meraih kedamian diri dan kesimbangan. Teasdall dkk (2000) melaporkan dalam penelitiannya yang dilakukan selama 60 minggu dengan subyek penelitian 45 orang diketahui bahwa terapi meditasi mindfulness (MBCT) mampu memberikan sumbangan penurunan tingkat depresi sebesar 75%.
Terutama dalam hal kecemasan membuka pemahaman dan kesadaran tentang menstruasi tersebut melalui meditasi jauh lebih tepat dalam mengatasi kecemasan yang diakibatkannya, meditasi mampu emosi makin terkontrol dan tidak  reaktif terhadap rangsangan luar  (Sudrijanta,2011). Karena pengobatan melalui obat-obatan menyangkut kecemasan hanya bersifat sementara (O’connor, 2005). Dalam menyelesaikan rasa cemas yang ada pada diri seseorang yaitu dengan cara memperdalam pembahasan, mendekat sessuatu dengan kesadaran mereka atau memberikan pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan rasa cemasnya agar pemikiran ini menjadi fakta yang terindera dalam dirinya sehingga rasa cemas tersebut dapat hilang secara gradual (Muhammad,1958). Meditasi sendiri mampu membuka kesadaran seseorang berkaitan dengan meredam konflik emosinya karena meditasi mampu mengembangkan ortbitofrontal cortex, yakni bagian otak yang menghasilkan perasaan-perasaan baik dan mengontrol perasaan negatif dan menurunkan pesan-pesan takut dari amygdala(O’connor,2009). Pada program pelatihan yang dilakukan oleh Jon Kabat-Zinn meditasi mampu mereduksi ketakutan, kekwatiran, kecemasan dan kepanikan seseorang (Brantley, 2003). Penelitian khusus yang berkaitan cara mengatasi pre-mestrualsyndrom ternyata diketahui bahwa meditasi efektif sebagai salah satu alternatif (Sanders, 2010)
Pada masa menstruasi para ahli psikologi melaporkan bahwa perempuan pada apremenstual Syndrome mengalami tensi darah yang tinggi, depresi, irribility yang akan menghilang saat menstruasi berahkir (Dalton,1964;Frank,1931;O,connor,2009) dan riset lain juga disebutkan wanita lebih cemas, rasa permusuhannya, dan depresi selama mengalami proses menstruasi dibandingkan pada hari-hari biasanya  (e.g Golub,1976;Paige,1971;O’connor,2009).
Pendapat lain juga menyebutkan keluhan-keluhan yang muncul menyertai menstruasi adalah keputihan, perasaan nyeri, atau panas (terutama sekitar perut bawah dan kemaluan), ketidak-stabilan emosi, lemas, tidak bergairah, penambahan atau penurunan nafsu makan dan lain-lain (Hendrik,2006). Berkaitan dengan masalah keluhan fisik yang berdampak pada kecemasan yang seringkali dialami remaja saat masa menstruasi seperti rasa nyeri sebenarnya dapat diatasi dengan pendekatan relaksasi yakni dengan memberikan sugesti bahwa dirinya sendirilah yang mengendalikan rasa nyerinya (Tomb,2003).
Sementara Mckay (1994) mengatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan dari ketegangan mental yang sering di ikuti semacam gejala fisik seperti jantung berdetak lebih cepat, bernafas dengan dangkal dan ketegangan otot dapat dikelola dengan relaksasi.
Teknik meditasi dapat juga dijadikan sebagai salah satu mengatasi kecemasan selain menggunakan obat-obatan, Weill mengatakan kelaparan akan pengalaman batin yang irasional, adalah penyebab utama adanya peningkatan pemakaian obat-obatan (termasuk alkohol) dan Meditasi mampu menggantikannya (Mc.Quade,1987) karena teknik ini mampu menenangkan dan mensegarkan pikiran dalam menghadapi permasalahan stress dalam kehidupan sehari-hari (Bose,2010).
Effendi (2006) mengatakan bahwa meditasi dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung manfaatnya, meliputi fisik dan psikis. Dari segi fisik antara lain : meningkatkan daya tahan tubuh, menghilangkan sakit kepala, menghilangkan sakit perut, mengurangi atau menyembuhkan sesak nafas, menstabilkan tekanan darah, mengatasi insomnia, menetralisir kolesterol, mengurangi dan menyembuhkan sakit pinggang, mengurangi rasa sakit dan sebagainya sedangkan dari segi psikis manfaat yang diperoleh dari meditasi antara lain: memberikan ketenangan batin, menghilangkan stress, meningkatkan rasa percaya diri/mengatasi malu, pengendalian emosi, menghilangkan kecemasan, menghilangkan ketakutan/phobia, menjadi lebih santun, menjadi lebih mudah memaafkan, dan sebagainya.
Tanpa mengesampingkan teknik-teknik meditasi lainnya, dalam penelitian ini meditasi dibatasi pada teknik meditasi pernafasan, gelembung pikiran dan meditasi suara dengan pertimbangan bahwa tehnik meditasi ini menyentuh pada akar permasalahan dalam penelitian yang melibatkan kepekaan perasaan, pikiran, fisik, dan batin seseorang. Melihat kecemasan sendiri menurut Haber dan Rumyon termanifestasikan dalam 4 dimensi kognitif, motorik, somatis, dan afektif (dalam S. Halim, 2005) meditasi tepat digunakan untuk mereduksinya.
E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian pada Tinjauan Pustaka dan Kerangka berpikir, maka dalam penelitian ini dapat ditarik hipotesis yang masih perlu diuji kebenarannya, yaitu:
Ada pengaruh sebelum dan sesudah penerapan terapi meditasi terhadap kecemasan remaja dalam menghadapi menstruasi
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian true exsperimental desin dengan rancangan Randomized Control Group Pretest-Posttest Design. Pada prosedur desain subjek dipilih secara rambang dari suatu populasi dan dibedakan menjadi dua yaitu kelompok eksperimen (dikenai perlakuan) dan kelompok control (tidak dikenai perlakuan). Keduanya diberikan pre-test dan post-test untuk mengukur perbedaan yang muncul dari keduanya (Suryabrata, 2009).
Bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi meditasi terhadap kecemasan remaja menghadapi menstruasi, dengan mengadakan pengukuran tingkat kecemasan sebelum perlakuan (pre-test) dengan system baseline mengambil rerata dari pengukuran sebanyak lima kali dengan instrument skala kecemasan remaja menghadapi menstruasi dan setelah diberikan perlakuan dalam jangka waktu tertentu diberikan pengukuran kembali (post-test).
Penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar.2 Kerangka Kerja Penelitian
B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian di fokuskan pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Rungkut Surabaya dalam tahun ajaran 2012/2013 untuk batasan waktu siklus pertama membutuhkan 6 bulan (bulan juli 2012 sampai dengan desember 2012) dan pada siklus kedua berlangsung selama 3 bulan  ( januari 2013 hingga maret 2013)
Tabel.1 Rencana Penelitian Tindakan Dalam Bimbingan Konseling (siklus.1)
1
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
1.
Pengajuan proposal penelitian
Juli s/d Agustus 2012
2.
Observasi lapangan
Agustus s/d  September 2012
3.
Adminstrasi perijinan penelitian
September 2012
4.
Uji Validitas dan Reliabilitas skala
September  s/d Oktober   2012
5.
Penyebaran Pre-test
Oktober 2012
6.
Perlakuaan

Meditasi Per
Komentar :














proposal diklat

PROPOSAL
Pelatihan Kader Kesehatan Remaja
Tahun pelajaran 2011/ 2012
SMA Negeri 1 Bantul

KADER KESEHATAN REMAJA
STIKES SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2012




Lembar Pengesahan





Pembina Bimbingan Konseling                               Pembina Usaha Kesehatan Sekolah




Tri Setiana, S.Pd                                                         Heri Setyawan, S.Pd              




Mengetahui


Kemahasiswaan                                                    Manajer Kesehatan dan Lingkungan




     Hanif, S.Pd                                                                   Catur Budi,SKM                                                






Menyetujui,
Ketua STIKES





Sugiono Almunawary, S.IP, MM, M.Ph




Proposal
Pelatihan Kader Kesehatan Remaja
Tahun Pelajaran 2011/ 2012
SMA Negeri 1 Bantul
A.        Pendahuluan
            Perkembangan era globalisasi saat ini telah mengubah sendi-sendi kehidupan kita. Khususnya perkembangan para remaja yang sedang mengalami masa transisi. Yang sering diistilahkan “Masa Puberitas” atau masa dimana para remaja mencari jati diri mereka. Dalam masa pencarian jati diri itulah para remaja banyak menemukan masalah-masalah, baik di rumah maupun dalam pergaulan (sekolah dan masyarakat). Bila dalam menghadapi masalah mereka tidak dapat menemukan jalan keluar, kemungkinan besar mereka akan melarikan diri kepada hal-hal yang negatif seperti minuman keras, narkoba dan pergaulan bebas.
            Mereka (para remaja) membutuhkan tempat untuk berbagai cerita, menyelesaikan masalah, dan butuh sekali pengetahuan-pengetahuan mengenai hal-hal yang sedang terjadi diluar sana. Selain itu kita kadang menjumpai orang yang  sedang kambuh penyakit atau kecelakaan baik bersifat ringan maupun berat, bagi kita yang tidak tau bagaimana cara memberikan bantuan yang bersifat darurat ini bisa menjadi fatal, tapi kadang kita ingin membantu tapi terbentur dengan keterbatasan kemampuan kita sehingga kita menjadi panik bahkan takut jika menjumpai kasus itu khususnya jika terjadi di sekolah, karena itulah kegiatan ini diperlukan. Maka diperlukan Pelatihan Kader Kesehatan Remaja, untuk membentuk remaja-remaja yang berwawasan luas dan berkepribadian baik. Sehingga kader-kader Kesehatan Remaja ini dapat membantu dalam memberikan solusi kepada teman-teman yang bermasalah.
1. Definisi Remaja
Remaja didefinisikan sebagai tahap perkembangan transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik karena pubertas serta perubahan kognitif dan sosial. Menurut Seifert dan Hoffnung (1987), periode ini umumnya dimulai sekitar usia 12 tahun hingga akhir masa pertumbuhan fisik, yaitu sekitar usia 20 tahun.
2. Pandangan Teoritis tentang Remaja
Ada dua pandangan teoritis tentang remaja. Menurut pandangan teoritis pertama – yang dicetuskan oleh psikolog G. Stanley Hall – : adolescence is a time of “storm and stress “. Artinya, remaja adalah masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, yaitu masa di mana terjadi perubahan besar secara fisik, intelektual dan emosional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan (konflik) pada yang bersangkutan, serta menimbulkan konflik dengan lingkungannya (Seifert & Hoffnung, 1987). Dalam hal ini, Sigmund Freud dan Erik Erikson meyakini bahwa perkembangan di masa remaja penuh dengan konflik. Keyakinan ini tercermin dari teori mereka tentang perkembangan manusia.

Menurut pandangan teoritis kedua, masa remaja bukanlah masa yang penuh dengan konflik seperti yang digambarkan oleh pandangan yang pertama. Banyak remaja yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya, serta mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan kebutuhan dan harapan dari orang tua dan masyarakatnya.
Bila dikaji, kedua pandangan tersebut ada benarnya, namun sangat sedikit remaja yang mengalami kondisi yang benar-benar ekstrim seperti kedua pandangan tersebut (selalu penuh konflik atau selalu dapat beradaptasi dengan baik). Kebanyakan remaja mengalami kedua situasi tersebut (penuh konflik atau dapat beradaptasi dengan mulus) secara bergantian (fluktuatif).
3. Pertumbuhan Fisik Remaja
Seseorang akan mengalami pertumbuhan fisik (tinggi dan berat badan) yang sangat pesat pada usia remaja yang dikenal dengan istilah growth spurt. Growth spurt merupakan tahap pertama dari serangkaian perubahan yang membawa seseorang kepada kematangan fisik dan seksual.
Pada usia 12 tahun, tinggi badan rata-rata remaja putra USA sekitar 150, sementara remaja putri sekitar 154 cm. Pada usia 18 tahun, tinggi rata-rata remaja putra USA sekitar 177 cm, sedangkan remaja putri hanya 163 cm. Kekepatan pertumbuhan tertinggi pada remaja putri terjadi sekitar usia 11 – 12 tahun, sementara pada remaja putra, dua tahun lebih lambat. Pada masa pertumbuhan maksimum ini, remaja putri bertambah tinggi badannya sekitar 3 inci, sementara remaja putra bertambah lebih dari 4 inci per tahunnya (Marshall, dalam Seifert & Hoffnung, 1987).
Seperti halnya tinggi badan, pertumbuhan berat badan juga meningkat pada usia remaja. Pertumbuhan berat badan ini lebih sulit diprediksi daripada tinggi badan, dan lebih mudah dipengaruhi oleh diet, latihan fisik, dan pola hidup.
Pada usia remaja, tubuh remaja putri lebih berlemak daripada remaja putra. Selama masa pubertas, lemak tubuh remaja putra menurun dari sekitar 18 – 19 % menjadi 11 % dari bobot tubuh. Sementara pada remaja putri, justru meningkat dari sekitar 21 % menjadi sekitar 26 – 27 % (Sinclair, dalam Seifert & Hoffnung, 1987).
Saat ini, remaja mengalami perubahan fisik (dalam tinggi dan berat badan) lebih awal dan cepat berakhir daripada orang tuanya. Kecenderungan ini disebut trend secular. Sebagai contoh, seratus tahun yang lalu, remaja USA dan Eropa Barat mulai menstruasi sekitar usia 15 – 17 tahun, sekarang sekitar 12 – 14 tahun. Di tahun 1880, laki-laki mencapai tinggi badan sepenuhnya pada usia 23 – 24 tahun dan perempuan pada usia 19 – 20 tahun, sekarang laki-laki mencapai tinggi maksimum pada usia 18 – 20 dan perempuan pada usia 13 – 14 tahun.
Trend secular terjadi sebagai akibat dari meningkatnya faktor kesehatan dan gizi, serta kondisi hidup yang lebih baik. Sebagai contoh, meningkatnya tingkat kecukupan gizi dan perawatan kesehatan, serta menurunnya angka kesakitan (morbiditas) di usia bayi dan kanak-kanak.
4. Pubertas
Pubertas adalah periode pada masa remaja awal yang dicirikan dengan perkembangan kematangan fisik dan seksual sepenuhnya (Seifert & Hoffnung, 1987). Pubertas ditandai dengan terjadinya perubahan pada ciri-ciri seks primer dan sekunder.
Ciri-ciri seks primer memungkinkan terjadinyanya reproduksi. Pada wanita, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada vagina, uterus, tube fallopi, dan ovari. Perubahan ini ditandai dengan munculnya menstruasi pertama. Pada pria, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada penis, scrotum, testes, prostate gland, dan seminal vesicles. Perubahan ini menyebabkan produksi sperma yang cukup sehingga mampu untuk bereproduksi, dan perubahan ini ditandai dengan keluarnya sperma untuk pertama kali (biasanya melalui wet dream).
Ciri-ciri seks sekunder meliputi perubahan pada buah dada, pertumbuhan bulu-bulu pada bagian tertentu tubuh, serta makin dalamnya suara. Perubahan ini erat kaitannya dengan perubahan hormonal. Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin, kemudian dilepaskan melalui aliran darah menuju berbagai organ tubuh.
Kelenjar seks wanita (ovaries) dan pria (testes) mengandung sedikit hormon. Hormon ini berperan penting dalam pematangan seksual. Kelenjar pituitary (yang berada di dalam otak) merangsang testes dan ovaries untuk memproduksi hormon yang dibutuhkan. Proses ini diatur oleh hypothalamus yang berada di atas batang otak.
5. Dampak Pertumbuhan Fisik terhadap Kondisi Psikologis Remaja
Pertumbuhan fisik yang sangat pesat pada masa remaja awal ternyata berdampak pada kondisi psikologis remaja, baik putri maupun putra. Canggung, malu, kecewa, dll. adalah perasaan yang umumnya muncul pada saat itu.
Hampir semua remaja memperhatikan perubahan pada tubuh serta penampilannya. Perubahan fisik dan perhatian remaja berpengaruh pada citra jasmani (body image) dan kepercayaan dirinya (self-esteem).
Ada tiga jenis bangun tubuh yang menggambarkan tentang citra jasmani, yaitu endomorfik, mesomorfik dan ektomorfik. Endomorfik banyak lemak sedikit otot (padded). Ektomorfik sedikit lemak sedikit otot (slender). Mesomorfik sedikit lemak banyak otot (muscular).
6. Masalah Kesehatan pada Remaja
Remaja merupakan usia paling sehat dibanding kanak-kanak dan dewasa karena sedikitnya penyakit yang dialami kelompok usia ini. Akan tetapi, remaja memiliki resiko kesehatan paling tinggi karena faktor kecelakaan, alkohol, narkoba, hamil diluar nikah, kebiasaan makan (diet) dan perilaku hidup sehat yang buruk
Dalam psikologi perkembangan remaja dikenal sedang dalam fase pencarian jati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan. Fase perkembangan remaja ini berlangsung cukup lama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 11-19 tahun pada wanita dan 12-20 tahun pada pria. Fase perkebangan remaja ini dikatakan fase pencarian jati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan adalah karena dalam fase ini remaja sedang berada di antara dua persimpangan antara dunia anak-anak dan dunia orang-orang dewasa.

Kesulitan dan persoalan yang muncul pada fase remaja ini bukan hanya muncul pada diri remaja itu sendiri melainkan juga pada orangtua, guru dan masyarakat. Dimana dapat kita lihat seringkali terjadi pertentangan antara remaja dengan orangtua, remaja dengan guru bahkan dikalangan remaja itu sendiri.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara singkat dapat dijelaskan bahwa keberadaan remaja yang ada di antara dua persimpangan fase perkembanganlah (fase interim) yang membuat fase remaja penuh dengan kesukaran dan persoalan. Dapat dipastikan bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan transisi atau peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain seringkali mengalami gejolak dan goncangan yang terkadang dapat berakibat buruk bahkan fatal (menyebabkan kematian).(Syah, 2001)
Namun, pada dasarnya semua kesukaran dan persoalan yang muncul pada fase perkembangan remaja ini dapat diminimalisir bahkan dihilangkan, jika orangtua, guru dan masyarakat mampu memahami perkembangan jiwa, perkembangan kesehatan mental remaja dan mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja.Persoalan paling signifikan yang sering dihadapi remaja sehari-hari sehingga menyulitkannya untuk beradaptasi dengan lingkungannya adalah hubungan remaja dengan orang yang lebih dewasa, terutama sang ayah, dan perjuangannya secara bertahap untuk bisa membebaskan diri dari dominasi mereka pada level orang-orang dewasa.
Seringkali orangtua mencampuri urusan-urusan pribadi anaknya yang sudah remaja dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, “Dimana kamu semalam?”, “Dengan siapa kamu pergi?”, “Apa yang kamu tonton?” dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya ditujukan oleh orangtua adalah karena kepedulian orangtua terhadap keberadaan dan keselamatan anak remajanya. Namun ditelinga dan dipersepsi anak pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti introgasi seorang polisi terhadap seorang criminal yang berhasil ditangkap.

Menurut pandangan para ahli psikologi keluarga atau orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu memperkenalkan kebutuhan remaja berikut tantangan-tantangannya untuk bisa bebas kemudian membantu dan mensupportnya secara maksimal dan memberikan kesempatan serta sarana-sarana yang mengarah kepada kebebasan. Selain itu remaja juga diberi dorongan untuk memikul tanggung jawab, mengambil keputusan, dan merencanakan masa depannya. Namun, proses pemahaman ini tidak terjadi secara cepat, perlu kesabaran dan ketulusan orangtua di dalam membimbing dan mengarahkan anak remajanya.

Selanjutnya para pakar psikologi menyarankan strategi yang paling bagus dan cocok dengan remaja adalah strategi menghormati kecenderungannya untuk bebas merdeka tanpa mengabaikan perhatian orangtua kepada mereka. Strategi ini selain dapat menciptakan iklim kepercayaan antara orangtua dan anak, dapat juga mengajarkan adaptasi atau penyesuaian diri yang sehat pada remaja. Hal ini sangat membantu perkembangan, kematangan, dan keseimbangan jiwa remaja. (Mahfuzh, 2001)

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi selama masa remaja tidak selalu dapat tertangani secara baik. Pada fase ini di satu sisi remaja masih menunjukkan sifat kekanak-kanakan, namun di sisi lain dituntut untuk bersikap dewasa oleh lingkungannya. Sejalan dengan perkembangan sosialnya, mereka lebih konformitas pada kelompoknya dan mulai melepaskan diri dari ikatan dan kebergantungan kepada orangtuanya, dan sering menunjukkan sikap menantang otoritas orangtuanya.

Remaja yang salah penyesuaian dirinya terkadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok remaja, bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif.
Berkaitan dengan pelepasan tangung jawab, dikalangan remaja juga sering dijumpai banyak usaha untuk bunuh diri. di Negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, Selandia Baru, masalah bunuh diri dikalangan remaja berada pada tingkat yang memprihatinkan. Sedangkan dinegara berkembang seperti Indonesia, perilaku tidak sehat remaja yang beresiko kecelakaan juga banyak dilakukan remaja, seperti berkendaraan secara ugal-ugalan. Hal lain yang menjadi persoalan penting dikalangan remaja disemua negara adalah, meningkatnya angka delinkuensi. Perilaku tersebut misalnya keterlibatan remaja dalam perkelahian antar sesame, kabur dari rumah, melakukan tindakan kekerasan, dan berbagai pelanggaran hukum, adalah umum dilakukan oleh remaja.

Kesehatan mental masyarakat pada dasarnya tercermin dari segi-segi kesehatan mental remaja. Makin tinggi angka delikuensi, bunuh diri remaja, penggunaan obat dan ketergantungan pada zat adiktif, berarti kesehatan mental masyarakat makin rendah.Usaha bimbingan kesehatan mental sangat penting dilakukan dikalangan remaja, dalam bentuk program-program khusus, seperti peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental, penyuluhan tentang kehidupan berumah tangga, hidup secara sehat dan pencegahan penggunaan zat-zat adiktif, serta penyuluhan tentang pencegahan terhadap HIV/AIDS, dan sejenisnya.

Program kesehatan mental remaja ini dapat dilakukan melalui institusi-institusi formal remaja, seperti sekolah, dan dapat pula melalui intervensi-intervensi lain seperti program-program kemasyarakatan, atau program-program yang dibuat khusus untuk kelompok remaja
B.        Tujuan
            Penyelanggaraan acara Pelatihan Kader Kesehatan Remaja ini bertujuan untuk memberi pengetahuan dan ketrampilan kepada calon Kader Kesehatan Remaja, seperti P3K, P3P, kesehatan, psikologis, dan kehidupan remaja. Mereka yang nantinya menjadi Kader Kesehatan Remaja akan memberi informasi- informasi tersebut kepada teman-teman ataupun keluarga mereka.
C.        Nama kegiatan
“Pelatihan Kader Kesehatan Remaja Tahun Pelajaran 2011/ 2012
SMA Negeri 1 Bantul”
D.        Bentuk Kegiatan
1.      Sosialisasi
Sosialisasi ini kami lakukan sebagai tahap awal pengenalan Kader Kesehatan Remaja SMA Negeri 1 Bantul. Kami lakukan pada waktu matrikulasi.
2.      Wawancara
Kami melakukan wawancara kepada Kader Kesehatan Remaja dengan tujuan untuk mengetahui kepribadian mereka. Karena kami menginginkan kader kesehatan remaja yang berkepribadian yang baik.
Pelatihan Kader Kesehatan Remaja
Kegiatan ini merupakan puncak dari kedua acara di atas. Dengan pelatihan ini, calon Kader Kesehatan Remaja akan dapat pengetahuan lebih komplek mengenai kesehatan jasmani dan psikologi dan bagaimana menjadi teman yang baik yang bisa memberi manfaat bagi orang lain terutama diri sendiri.
E.        Peserta
1.      Seluruh ketua organisasi
2.      Seluruh Ketua Kelas XI dan XII
3.      Siswa-siswi tingkat X yang telah lolos seleksi wawancara
F.      Waktu Kegiatan
Pelatihan Kader Kesehatan Remaja ini akan dilaksanakan pada :
            Hari                 :           Sabtu
            Tanggal           :           14 Januari 2012
            Tempat            :           SMA Negeri 1 Bantul
G.        Susunan Acara Pelatihan Kader Kesehatan Remaja
07.00 – 07.15
Persiapan Panitia
07.00 – 07.30
Pembukaan oleh Kepala Sekolah
07.30 – 08.30
Peran Kader Remaja oleh Manajer Kesling
08.30 – 10.30
Materi Kesehatan Reproduksi, Free Sex dan Aborsi oleh Puskesmas
10.30 – 12.30
Materi P3P dan P3K Puskesmas
12.30 – 13.00
Istirahat
13.00 – 14.00
Praktek Konseling oleh sesama kader kesehatan remaja
14.00 – 15.00
Praktek P3P dan P3K oleh sesama kader kesehatan remaja
15.00 – selesai
Hiburan



H.        Anggaran Dana
Pemasukan dari bantuan Gubernur                                               Rp. 1.000.000,-
Pengeluaran
Konsumsi peserta @ Rp. 5.000 X 100 orang              = Rp. 500.000,-
Konsumsi Panitia @ Rp. 5.000 X 10 orang                 = Rp. 50.000,-
Konsumsi tamu undangan @ Rp. 1.0000 X 3 orang   = Rp. 30.000,-
Biaya Pemateri @ Rp. 100.000 X 3 orang                  = Rp. 300.000,-
Dokumentasi                                                                           = Rp. 20.000,-
Alat praktek P3k dan P3P                                             = Rp. 100.000,- +
                                                             Rp. 1.000.000,-


  

                                                                                                                        Rp. 0

I.                   Susunan Panitia

Pelindung             :  Sugiono Almunawary, S.IP, MM, M.Ph
     Penasihat               : Dwi Suharyanta, ST, MM
                                Mochamad Rofiq, ST, MM
                                Drs. Abdurrahman Suroyo
      Ketua                    : Almarjani
Sekretaris             : Kuni Arifatul F
Bendahara           : Datni Leslesy
                                Nurul Hidayati
Seksi Acara          : Masykur Arifin
                                Abdul Aziz
                                Syaiful Fattah          
Seksi PDD            : Angga Riana
                                Guswanto
                                Afif M
                                Santi
Humas                  : M. Faisal
                                Burhannudin
                                Kasrim
Seksi perkap        :  Imam K
                                Muif Y
                                Ari Winata
                                Supriyono
Seksi Konsumsi   : Khoirunnisak
                                Purnamasari
                                Bagus Dwi Prayitno
                                Sulani Noviani
                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar